Minggu, 02 Agustus 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 1

Takdir Memang Kejam

Tak mengenal perasaan…
Sudah belasan tahun berlalu, tapi Teh Desi yang menyanyikan lagu itu masih cantik juga. Dan lagi, sekarang menjanda. Seandainya bukan karena lagu itu, niscaya sudah kuketuk pintu rumahnya dan kulamar dia. Apapun hasilnya, yang penting dicoba (kira-kira begitulah arti pasrah menurutku).

Karena lagu itulah aku sempat membayang Tuhan sebagai sosok yang kejam, bengis dan tak berperasaan. MembayangkanNya sebagai Sosok seperti teroris yang mengaku pembela Tuhan. Jauh berbeda dengan pengenalanku meski pada sebatas Nama dan SifatNya. Sehingga kuputuskan untuk menunda dulu niatku itu.

Apalagi setelah kudapati ajaran Nabiku untuk selalu menyebut NamaNya Yang Pengasih dan Penyayang sebelum memulai aktifitas apapun juga. Bahkan, saking manjingnya ajaran itu, aku pernah melihat temanku baca Bismillah ArRohman ArRohim sebelum berbuat ulah. Membawa NamaNya Yang Pengasih dan Penyayang itu sebelum ugal-ugalan. Wajar, seperti itulah yang diajarkan di sekolah, wajar juga jika kami ikuti karena kami pun masih remaja. Wajar, bagian dari kenakalan remaja.

Begitu jugalah sikapku pada tukang bom maupun kelompok - kelompok pencinta kekerasan lainnya yang mengatasnamakan Tuhan. Berperang, membunuh, merusak Rumah Ibadah dan bahkan membakar Kitab Suci di dalamnya karena ‘merasa’ disuruh oleh Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Ya, pembakaran Kitab Suci itu sudah keterlaluan. Apalagi Nabiku berpesan supaya meyakini semua Kitab Suci dan semua Nabi yang pernah diturunkan Tuhan. Bagiku semua kebrutalan itu adalah aksi kenakalan remaja, yang entah berapapun umur simpatisannya, sesepuh kelompoknya maupun semua anggotanya, kuanggap mereka masih ABG semua.

Nah, karena sesungguhnya Beliau Maha Pengasih dan Maha Penyayang itulah maka lebih baik aku memihak padaNya dan kubatalkan semua bayanganku untuk melamar teh Desi, karena sepertinya dia telah mencemarkan nama baik sosok yang lebih ingin kudekati.
Siapa Desi?
Kenal juga tidi…

*

Pernah saat aku jalan pagi-pagi menjelang Subuh untuk cari makanan di pasar, aku berpapasan dengan seseorang, bajunya putih-putih dan baunya harum seperti mau ke Masjid di seberang pasar. Aku hitam-hitam, rambutku masih sepinggang. Melihat jalanku yang agak goyang, tanpa menyapa dia berkata garang :
“Seharusnya kamu takut pada Tuhan!”

Sesaat peningku hilang, lalu meradang:
“KADAL! Kalo nanti aku benar-benar takut kepada Tuhan dan tak berani untuk mendekati dan mendatangi ‘rumah’Nya bagaimana?”

Mukanya memerah bersemu biru, karena tidak mau meneruskan pertengkaran aku tinggalkan dia untuk mendatangi penjual gorengan. Ya, perutku lapar. Juga teman-teman yang menunggu di rumah kothak tempatku menumpang.
Lagipula aku tahu maksudnya baik, mungkin waktunya yang tidak tepat, juga tempat dan caranya. Gaya seperti itu hanya cocok di Masjid. Tempatnya orang-orang yang takut kepada Tuhan.

Kalo ada yang bertanya padaku apa tidak takut pada tuhan, aku akan menjawab setengah berteriak, ‘Tidak!” bukan karena nekat atau sok berani, tapi karena Beliau itu memang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Cinta, Maha Romantis, Maha Pehatian, …, …, …

Intinya, bila memang ada peluang dariNya aku akan sukarela datang, bukan takut trus menjauhi. Dia memang Raja tapi bukanlah Raja Yang Pembenci. Bahkan, di saat aku tersesat, Dia tak pernah marah ataupun menghukum.
Dia hanya bilang, “Sesungguhnya adzabku sangat pedih.”
Dia tak pernah bilang yang seperti ini aku adzab yang begitu aku kutuk. TAK PERNAH..

Bahkan setelah semua pemberitahuanNya bahwa Dia mempunyai Adzab yang pedih, Dia juga selalu bilang, “Bila kamu kembali, sesungguhnya Aku ini Maha Pengampun dan Maha Penyayang…”

Tuh kan,, Dia lebih mengutamakan Sayang daripada Kutuk, Ampunan daripada Adzab. Lalu masih ada yang bilang ‘Takdir memang Kejam’? teganya mereka berkata seperti itu…

**
Madiun, 06 Juli 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 2

Si Maha Cinta
-ST-

Apabila seseorang berkata, “Tuhan telah mengadzab negeri ini” atau “Tuhan sedang menguji kita” atau pun kata-kata lain yang intinya menyampaikan secara tersirat bahwa Tuhan itu kejam dan suka balas dendam, sungguh hal itu sangat mengusik bahkan sesekali membuat sesak dan muram.

Padahal beliau itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang, setiap hari disebut berulang-ulang. Tidakkah kita merasakannya?

Misal saja, di momen tertentu seperti Ulang Tahun, hari pernikahan ataupun hari-hari bahagia kita lainnya, kita akan senang bila ada perhatian dan hadiah-hadiah yang datang. Yang dikirim oleh keluarga, sahabat, teman dan semua orang yang menyayangi kita.

Hanya beberapa kali saja dalam hidup, tapi bisa membuat kita merasa berarti. Merasa dihargai…

Pernahkah kita merasa dihargai oleh Tuhan lebih mahal dan lebih besar dari penghargaan siapapun juga? Yang dengan Kasih SayangNya memberi tanpa pernah kita meminta. Nafas misalnya, diberikan setiap hari pada kita gratis tanpa biaya.

Tapi ini baru satu pemberian, padahal masih ada jutaan hadiah lain yang kita tidak sempat menghitungnya. Yang Dia berikan tanpa menunggu momen penting kita, meski kita cenderung untuk mengabaikanNya.

Melihat pada semua hadiah ini, pernahkah kita berpikir bahwa Dia menghargai kita? Bahwa kita, manusia ini,, sangat berarti bagiNya? Dan beranikah kita membalas CintaNya? Setidaknya, dengan mengurangi kebiasaan untuk menyalahkanNya atas kemalangan kita..

**

Madiun, 06 Juli 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 3

THE SPEAKLESS GOD
-ST-

Seringkali bila ada musibah yang datang pada seseorang, sekelompok orang atau suatu bangsa kita langsung menuding Tuhan sebagai biang. Dengan berkata bahwa, “Tuhan tengah menguji kita.”

Meskipun tak pernah bersuara, ada segolongan orang di dunia ini, yang tak pernah mengaku dirinya pewaris para nabi, yang akan langsung sedih dan malu hati. Entah apapun agamanya mereka ini akan langsung tunduk dan berserah diri.

Karena kita ini masih saja tebal ketidaktahuannya. Ditambah lagi, bersikap sombong untuk mau mengakuinya. Karena tidak ada yang mau disalahkan, kita arahkan saja telunjuk kita pada : Tuhan!

Ya, karena kita tahu Tuhan tidak akan melawan, diam saja saat dikambing hitamkan. Dan sebagian manusia yang diuntungkan oleh propaganda ini tertawa bodoh sambil merebahkan badan.

Siapa Aku?
“Aku menurut pada persangkaan hambaKu.” kataNya pada suatu ketika. Seperti air yang selalu mengikuti bentuk bumi sebagai wadahnya. Seperti angin yang selalu bergerak mengiringi panas-dinginnya api. Seperti itulah Tuhan akan menampilkan DiriNya pada kita.

“Call Me what you will,” kata Tuan Guru Metallica dalam salah satu suratnya : wherever I may roam.

Bila tak ada yang bisa disalahkan, Dia bersedia duduk di Kursi Pesakitan.
Bila panas yang dibutuhkan, Dia akan datang bersama matahari agar manusia tertawa riang.
Bila air yang dibutuhkan maka Dialah yang menurunkan hujan dan mengeluarkan air dari perut bumi untuk para petani.
Bila manusia sedang gila perang, maka Dialah yang hadir bersama kemenangan dan Dia pula yang menyabarkan mereka yang diderita kekalahan.
Bahkan bila dunia malam yang kita Agungkan maka Dialah yang memberi aman agar kita bisa bergoyang.
Dan bila uang yang kita Tuhankan, Dia akan memaksakan diri hadir bersamanya agar manusia senang.
Apapun tujuan hidup manusia disitulah Tuhan berada,

Kesemuanya itu Dia lakukan karena Dia : Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Di saat kita lupa dan melangkah kejauhan, bahwa kesemuanya itu bukanlah tujuan hidup melainkan sarana hidup lalu disadarkan oleh kejadian,,
Dengan mudah saja kita sepakat bersama-sama, secara nasional mengarahkan muka kita padaNya lalu bilang, “Dialah biang segala kemalangan…”

Darimana sebetulnya penyikapan seperti ini? Kalau penafsiran ini salah, sudah seharusnya kan untuk kita rubah... Kalo memang keliru sudah sepantasnya tidak ditiru dan Jika ada yang kurang sebaiknya segera dibuang.

Kalau ternyata kita sendiri yang salah memberi arti, sekarang inilah waktunya diperbaiki. Di saat bencana sering datang silih-berganti.

Karena sebetulnya kita semua ini, masih dan akan selalu disayang. Meskipun berkali-kali kita menganggapNya Tukang Balas Dendam yang Garang, Dia tidak akan langsung marah dan menyiksa kita. Tidak selama kita masih menjadi pemimpin di Bumi ini.

Tapi nanti sebagai pribadi, sebagai keluarga, sebagai umat beragama dan sebagai bangsa yang merdeka, kita akan Apel Bersama seluruh umat manusia lainnya untuk mempertanggung jawabkan kepemimpinan kita. General Meeting, Rapat Akbar, Wukuf di Padang Besar.

Bahkan di hari luar biasa itu pun masih tersedia segudang Rahmat dan Ampunan..

Lalu, di dunia ini siapa sebetulnya yang mendatangkan musibah? Kita punya Ilmu Pengetahuan..
Bukankah sudah waktunya kita kembalikan Ilmu Pengetahuan sebagaimana fungsinya?
Yang bukan hanya untuk menumpuk kekayaan dan menegaskan kekuasaan.. tapi pada fungsi aslinya yang dilahirkan oleh budidaya akal dan pikiran manusia untuk kepentingan kemanusiaan…

Memanfaatkan dengan sebenar-benarnya agar kita tidak melulu menyalahkan Tuhan…

**

Madiun, 06 Juli 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 4

UJIAN DAN KEKASIH TUHAN
-ST-

Sudah menjadi kebiasaan kan?
Setelah terjadi musibah, banyak diantara kita yang masih sering mengabaikan logika, baik logika materi –kebendaan maupun logika rohani. Yaitu menempatkan Tuhan di kursi pesakitan, sebagai tersangka utamanya.

Dan kita adalah hakim, jaksa, pengacara, saksi dan peserta sidangnya sekaligus. Pengadilan tidak berdasar, yang dijalankan dan diikuti oleh orang-orang malas dan bodoh. Tanpa bukti memadai mendakwa dan menyimpulkan :
“Ini Adzab Tuan.”
“Ini Murka Tuan.”
“Ini Siksa Tuan.”
“Ini Ujian Tuan.”
Dan karena Beliau Maha Mengerti dan Maha Menyayangi makhlukNya terutama manusiaNya, beliau hanya Diam membenarkan.

Jika mendakwa tanpa mengumpulkan bukti, lalu dimana letaknya Ilmu Pengetahuan? Yang ribuan tahun dikembangkan manusia untuk kepentingan kemanusiaan? Yang membantu para manusia untuk mengatasi segala tantangan dalam memimpin alam… yang selalu bisa menuntun kita untuk menemukan dimana letaknya kesalahan…

Bila saja semua itu kita lakukan, memanfaatkan Ilmu Pengetahuan sebagai alat kemanusiaan, niscaya kita tidak akan lagi berkata :
“Ini Adzab Tuhan.”
“Ini Murka Tuhan.”
“Ini Siksa Tuhan.”
“Ini Ujian Tuhan.”

Atau kita hanya mengacu pada Kitab Suci, bahwa suatu saat Dia akan Menguji? Dengan kesusahan dan kesengsaraan… tanpa mau tahu siapa sebenarnya yang berhak diUji Tuhan.. meskipun penafsiran ini sudah menjadi tradisi, tak ada salahnya bila kita mau menggali lebih dalam lagi.

Jika memang ada waktu luang, perhatikanlah bahwa setiap ayat yang menyebutkan tentang Ujian Tuhan biasanya berkaitan dengan kisah tentang Para Nabi dan Para Kekasih Tuhan. Dan bila kita masih suka untuk menyebut masalah kita sebagai Ujian Tuhan, seharusnyalah untuk menyikapi kita berkata :

“Niscaya Kau dapati aku sebagai orang yang sabar…” ucapan penyerahan diri Ismail kepada Ibrahim dan Tuhan. Bahwa dia memang mau dan ikhlas untuk berkurban. Tidak terlihat dalam ucapannya bahwa dia adalah kurban, obyek dari sebuah Ujian.

“Tiada Tuhan selain Engkau Yang Maha Suci, sesungguhnya aku termasuk golongan orang yang keliru.” Yunus saat tertelan oleh ikan di tengah lautan. Tidak ada ratapan minta ampun, yang ada adalah keberanian dan kejujuran. Pengakuan tentang kekeliruan diri dan pengagungan Tuhan pada saat yang sama. Bicara tentang SuciNya bukan MurkaNya.

“Ya Alloh sesungguhnya aku ini dalam penyakit dan kesusahan, Dan Engkau adalah Yang Maha Pengasih dan Penyayang.” Ayyub, dalam hidupnya yang harus kehilangan harta benda, keluarga dan kesehatan. Tak ada penyesalan, tapi kejujuran tentang keadaan dirinya dan keadaan TuhanNya. Tidak merasa diAdzab, tetapi memang kesalahan ada di pihaknya.

…, …, …

Dari contoh-contoh di atas, sosok-sosok yang benar-benar menerima Ujian Tuhan, adakah yang menyalahkanNya? Adakah yang berani mengatakan bahwa itu adalah murkaNya? Kitalah yang selama ini memberi penafsiran-penafsiran ini. Untuk menggampangkan permasalahan, kita arahkan saja telunjuk pada Tuhan. Supaya kita bisa mengulangi lagi kesalahan, tapi tak pernah berani dan jujur mengakui bahwa musibah bukan gara-gara Tuhan…

Para kekasih itu, dengan rendah hati mereka menyebut kemanusiaannya, kekurangannya lalu mengagungkan Tuhannya. Meski pengetahuan terbatas saat itu, mereka tidak mati akal dan pikiran. Meneliti, mengumpulkan bukti dan mencari dimana sumber kesalahan. Setelah terlihat kebodohannya sebagai manusia, mereka mengingat keAgungan Tuhannya.
memujiNya, bukan menyalahkan…

**

Madiun, 07 Juli 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 5

I P A
-ST-

Di jaman ini, saat Ilmu Pengetahuan Alam begitu pesatnya, kita sering duduk bersila bersama-sama minta agar Tuhan tidak lagi murka..?
Padahal masih belum jelas duduk perkaranya dan belum ketahuan apa penyebab yang sebenarnya?

Saat bencana Tsunami terjadi di Aceh empat tahun yang lalu, bangsa kita juga digoyang gempa beberapa minggu sebelumnya, di Nabire. Semua mata berduka menatap berita, “akankah hal yang sama terjadi di daerah tinggal kita?”

Lalu dher.. menyusul pula gempa di Jogja. Adakah yang menjamin itu tak akan terjadi lagi? Tentu saja tak ada yang berani, karena kita memang hanya bisa melakukan antisipasi, yang seharusnya bukan hanya dengan duduk bersila bersama-sama. Apalagi saat bencana itu pernah terjadi, kita lebih setuju untuk mengatakannya sebagai : Kutukan Ilahi..!!!

Suatu kenyataan yang menusuk hati. Meskipun saya bukan ahli geografi, geologi, geodhesi dan geo-geo lainnya, boleh kan saya mengajukan fakta?

Bahwa sudah sejak jaman Belanda, Aceh dikeruk isi buminya. Dengan dinamit, dengan bor dan berbagai macam teknologi lainnya. Pernahkah pengelola dan pemerintah memperhatikan dengan sungguh-sungguh efek sampingnya? Sampai batas mana eksplorasi ini tidak menimbulkan bencana? Lalu dijelaskan pada masyarakat sekitarnya, saat sudah mendekati ambang batas toleransi, Apakah yang akan diutamakan nantinya, manfaatnya untuk memperkaya ‘bangsa’ atau dampaknya yang bisa menimbulkan bencana?

Nabire, Jayapura, Minahasa, Sumbawa, Sidoarjo dan tempat eksplorasi alam lainnya pun perlu mendapat perlakuan yang sama. Terutama tentang antisipasinya *) **)
Ya, perlakuan yang mengedepankan Ilmu Pengetahuan Alam, pendekatan kepada alam, yang tidak semata-mata pendekatan harta dan kekuasaan.

Kalau teknologi yang mengedepankan pendekatan kepada alam ini belum tersedia ilmunya di belahan dunia manapun juga, kenapa bukan kita yang menggali dan menemukan teknologinya?

Kalau memang pengelolanya dan pemerintahnya ternyata seperti saya, malas semua, ya sudah! Jangan menyalahkan Tuhan, jangan dianggap ini adzab Tuhan. Ini adalah hasil perbuatan kita sendiri, manusia. Adzab kebodohan kita sendiri. Kenapa harus bilang Kutukan Ilahi? Seperti primitif yang tak kenal teknologi??

Banjir dan tanah longsor, ini pun sudah jelas semua penyebabnya. Sudah deijelaskan sejak kita mengenal Ilmu Alam ratusan tahun yang lalu. Tentang cara kerja dan sifat air di bumi. Yang perlu dikendalikan agar tidak liar dan merugikan manusia. Dengan menjaga jumlah pohon di pegunungan, bantaran sungai dan lain-lain…

Pernahkah kita mengindahkannya?
Bila jawabannya tidak, maka untuk yang tinggal di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yang cenderung terletak di dataran rendah, bersiaplah…
Bersama-sama menunggu adzab, yang akan diturunkan oleh saudara kita sesama manusia yang selalu lapar perutnya…

*) thanx to : Air Putih dan organisasi sejenis lainnya yang mau bersusah payah menggantikan peran pemerintah untuk memantau gejala gempa dan beraksi nyata untuk menanggulangi musibah.
**) per tanggal 30 Juli 2009 Pemerintah mengingatkan akan adanya badai pada 2010, ada kemungkinan gagal panen besar – besaran.

Yang Tersurat Pada Adzab 6

SABDA ALAM
-ST-

Bumi, telah diperintahkan oleh Tuhan agar diam saat manusia berjalan di atasnya, juga saat manusia melubangi tubuhnya. Bagaimanapun bentuk, rupa dan prilakunya, manusia harus dapat perlakuan istimewa. Perintah agar patuh pada manusia itu pun berlaku juga pada air, api, angin dan semua unsur alam lainnya.

Pepohonan dan hewan, yang sama-sama makhluk hidup pun mendapat Perintah yang sama. Agar tunduk patuh pada kepentingan manusia dan kelangsungan hidupnya. Begitu pula pada hati manusia pun diberi perintah yang sama. Yang sakit bila dicaci, yang gembira ketika dipuji.
Berupa apakah Perintah Tuhan itu?

Berupa Hukum dan Perundangan Alam. Hukum Gravitasi, Hukum Archimedes, Hukum Energi, Hukum Ketertarikan Antar Manusia, …, … dan banyak lainnya. Semua itulah Sabda Alam, Perintah Tuhan,, Bibit Ilmu Pengetahuan : Alam dan Sosial.

Yang membuat makhluk sepeerti Malaikat pun terdiam, ketika ternyata Adam mengenal pada Hukum dan Perundangan Alam. Modal yang hanya dimiliki jenisnya, untuk memanfaatkan dunia dan seluruh potensinya, untuk menunjukkan kepemimpinannya.

“Dan Telah Kami Ajarkan Nama-Nama Kepada Adam.”
Hanya kepada nenek moyang kita itulah Ilmu Pengetahuan diturunkan. Tidak pada Malaikat, Jin, Iblis, Rumput, Kodok, Nyamuk, Kuman maupun ciptaan lainnya. Hanya kepada Adam dan anak cucunya.

Kini benih itu telah tumbuh dengan sempurna, berkembang dan menghasilkan buahnya. Penting bagi kita untuk mengingat karunia ini dengan sepenuh hati kita, bahwa Dialah yang telah memberi bekal kepada kita untuk memanfaatkan dan mengendalikan duniaNya. Agar bisa sepenuhnya mengendalikan hidup kita.

Karena Karunia ini telah memuliakan kita di atas makhluk lainnya. Karena kitalah yang diharapkan bisa mengenali betapa besar Kasih SayangNya, melebihi ancamanNya tentang Adzab dan Siksa, bila kita sempat dan mau kembali padaNya.

**

Madiun 08 Juli 2009

Yang Tersurat Pada Adzab 7

Sabda Alam – Ilmu Pengetahuan – Teknologi
-ST-

Kita pernah mempelajari bahwa Hukum-hukum Alam telah melahirkan Ilmu Pengetahuan yang pada waktunya Ilmu Pengetahuan ini melahirkan Teknologi, mesin-mesin canggih untuk mengeksplorasi bumi dan seisinya, juga melahirkan paham memikat yang menyelami jiwa dan pikiran manusia. Sampai datang revolusi industri yang terus berlangsung sampai sekarang ini.

Dari proses tersebut, kita bisa menjawab pertanyaan dari bagian kelima sebelumnya. Bahwa sebetulnya teknologi eksplorasi alam sudah ada pada titik optimal. Semua teknologi sudah ada termasuk antisipasi bencana, kita mengenalnya dengan : International Standard Operation (ISO).

Karena para pencipta mesin canggih itu pasti ingat bahwa asal muasal mesinnya bekerja itu diambil dari prinsip kerja alam, hukum alam. Maka hukum alam itu pula yang mereka jadikan patokan, untuk menentukan kapan harus bilang : Finish. Stop, selesai, reklamasi… bila ISO ini dilanggar, maka ketemulah sebab-sebab ketidak seimbangan alam.

Bila disharmoni ini diperbaiki sendiri oleh alam, maka kita sudah melihat bagaimana kejadiannya dan siapa korbannya. Dan hebatnya, karena mereka yang telah melanggar garis finish itu (entah kenapa bertindak melampaui batas) takut dimasukkan penjara, bekerja sama dengan penyelenggara negara, pemuka masyarakat dan pemuka agama menyerukan, “Ini Adzab Tuhan.” Lalu karena media menyiarkan, kita pun sepakat untuk : mengiyakan!!

Siapapun orangnya yang telah menafsirkan dan mengajarkan tentang adanya Adzab dan Ujian Tuhan, pasti telah lama memikirkan sampai akhirnya tiba pada kesimpulan demikian. Hanya kebetulan, penulis tidak percaya sebelum membuktikan…

Dalam tulisan-tulisan ini, tidak ada maksud untuk mengajak tidak percaya juga. Tapi penulis hanya mengajak untuk melihat bukti-bukti. Karena pembuktianlah yang membantu kita untuk meyakini kebenaran, bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
Apapun yang dilakukan manusia, selalu diijinkan. Termasuk ketika melakukan pengrusakan maupun ketika manusia berbuat di luar batas.

Perintah Tuhan itu Benar dan bersifat Kekal. Hukum alam sudah berjalan sejak awal mula kejadian, sampai sekarang dan sampai kiamat nanti. Jika suatu saat terjadi musibah dan kecelakaan yang disebabkan telah dilanggarnya hukum alam oleh manusia, janganlah lagi berkata ini adzab Tuhan.
Bila karena tidak pernah berbagi dan bersosialisasi lalu disakiti orang lain, jangan hanya berkata ini ujian Tuhan.

Tapi arahkanlah telunjuk pada diri sendiri, carilah siapa yang pantas dicaci-maki. Jika sudah mulai tenang, maafkanlah diri sendiri itu. Bila semuanya sudah berdamai, saat itulah biasanya muncul yang dinamakan : Hikmah!
Yang mengingatkan tentang kesalahan kita lalu menuntun kita pada yang seharusnya. Membawa kita untuk mengenali keAgungan dan KeBesaranNya, pada Kasih Sayang Nya.

Kalau pun masih ada yang bertahan tentang Adzab dan Cobaan, maka bersikaplah seperti mereka yang pernah menerima pengujian. Para Nabi dan Kekasih Tuhan.

**
Madiun 08 Juli 2009